Kamis, 16 Agustus 2007

Suasana tegang....Penyerahan Permendagri 29/2007

Kangen aku menuliskan beberapa kejadian kemarin di tempat kerja. Ada beberapa moment yang sudah terlewatkan, ingin berbagi cerita, tetapi waktuku baru kali ini bisa mencurahkannya lewat blog ini.

Setelah sekian tahun diproses, akhirnya Permendagri No. 29 tahun 2007 tentang Batas Daerah Kabupaten Deli Serdang dengan Kabupaten Serdang Bedagai Provinsi Sumatera Utara akhirnya diterbitkan juga pada tanggal 20 Juni 2007. Pro dan Kontra sudah terjadi sejak awal pembentukan Kab. Serdang Bedagai (UU No 36 Tahun 2003). Ada bagian wilayahnya Serdang Bedagai (Sergai) (9 desa) yag masih ngotot untuk tetap masuk dalam wilayah induk (Kab. Deli Serdang). Rentetannya begini :

Kabupaten Serdang Bedagai dibentuk berdasarkan UU No. 36 tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Samosir dan Kabupaten Serdang Bedagai di Provinsi Sumatera Utara. Sesuai dengan pasal 4 poin l UU No. 36 tahun 2003 disebutkan bahwa Kecamatan Bangun Purba yang terletak di sebelah Timur Sungai Buaya merupakan wilayah Kabupaten Serdang Bedagai. Selanjutnya daerah tersebut (9 desa) dibentuk menjadi Kecamatan Silinda Kabupaten Serdang Bedagai.

Berdasarkan pasal 6 UU No. 36 tahun 2006 disebutkan bahwa Kabupaten Serdang Bedagai sebelah barat berbatasan dengan Sungai Ular dan Sungai Buaya. Sesuai dengan fakta di lapangan, letak posisi dari 9 (sembilan) desa tersebut berada diantara Sungai Buaya dan Sungai Bane, tegasnya 9 (sembilan) desa tersebut sebelah barat masing-masing dengan Sungai Buaya dan sebelah timur dengan Sungai Bane. Sungai Bane ini bermuara di Sungai Buaya yang menjadi batas alam antara Kecamatan Bangun Purba dengan Kecamatan Kotarih (wilayah Kabupaten Serdang Bedagai). Oleh sebab itu kecamatan Bangun Purba yang terletak di sebelah Timur dari Sungai Buaya dan Kecamatan Galang yang terletak di sebelah Timur dari Sungai Ular merupakan bagian dari wilayah Kab. Serdang Bedagai.
Selanjutnya mengacu kepada pasal 6 ayat (4) UU Nomor 36 Tahun 2003 dinyatakan bahwa penentuan batas wilayah Kabupaten Serdang Bedagai secara pasti di lapangan ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. Menindaklanjuti amanat pasal 6 ayat (4) UU Nomor 36 tahun 2003 telah diterbitkan Permendagri Nomor 29 Tahun 2007 tentang Penegasan Batas Daerah antara Kabupaten Serdang Bedagai dengan Kabupaten Deli Serdang tanggal 20 Juni 2007. Permendagri tersebut akan segera diserahkan dalam waktu dekat kepada Pemerintah Kab. Serdang Bedagai dan Pemerintah Kab. Deli Serdang.

Namun demikian dalam prosesnya ada aspirasi masyarakat di 9 (sembilan) desa di wilayah Kecamatan Silinda yang tidak ingin bergabung dengan Kab. Serdang Bedagai (Kab. Pemekaran) dan tetap berada dalam wilayah Kab. Deli Serdang (Kab. Induk) dengan alasan utamanya terpecahnya masyarakat adat; padahal batas wilayah administrasi tidak dimaksudkan untuk secara eksklusif mengelompokkan masyarakat adat/etnis tertentu. Kepada perwakilan masyarakat 9 (sembilan) desa di wilayah Kecamatan Silinda yang datang ke Ditjen PUM akhir Juli 2007 telah dijelaskan bahwa jika ada perubahan batas daerah, sesuai dengan UU Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah pasal 7 ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah

Acara Penyerahan Permendagri tsb dirancang tanggal 15 Agustus 2007 dengan mengundang Gubernur Sumut dan Kedua Bupati, yang pada pelaksanaannya diwakili oleh Asisten I (Pemerintahan) masing-masing Pemerintah Daerah. Ruangan dan acara sudah dirancang. Para undangan dari instansi Pusat sudah pada menuliskan nama di daftar hadir. Tapi ada yang berbeda, Pengamanan acara tidak seperti biasanya, ada suasana "tegang". Pihak yang tidak setuju dengan Penyerahan Permendagri tersebut, sudah stand by di lobby lt II di dpn ruangan subdit Batas Antar Daerah yang punya gawe. Sebagian sudah sering datang di kantor menyuarakan ketidaksetujuan mereka yang mengaku perwakilam masyakarat Batak Timur (dari Bangun Purba). Wah...ini sebutan baru yang aku dengar sebabai etnis Batak (atau aku yang telmi yah...dengan sebutan itu). Tapi apapun sebutan itu, alasan pemisahan adat-budaya karena pemekaran wilayah adalah tidak betul. Hakekat adat-budaya terletak pada manusianya, bukan tanahnya/daerahnya. Sedangkan tanah/daerah dibagi oleh hukum negara menjadi wilayah-wilayah adminstrasi pemerintahan, bukan menghilangkan nilai luhur budaya manusianya. Pemikiran semacam ini yang tidak dipahami, atau mungkin ada orang tertentu yang berkepentingan dengan daerah tersebut sehingga memprovokasi masyarakat dengan alasan pemisahan adat. Daya nalar yang kurang paham dan provokasi dari luar sehingga membuat brontak emosional. Padahal hakekat pemekaran wilayah itu adalah agar memberi pelayanan masyarakat yang lebih baik dan cepat dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tapi mudah-mudahan masyarakat di 9 desa Kec. Silinda akan paham dan tidak terprovokasi.

nah...kembali ke acara penyerahan permendagri.

Beberapa tokoh (mereka mengaku tokoh) mengajukan keberatan dan bermohon membatalkan Permendagri tersebut. Sempat terdengan suara-suara keras dan berusaha bertemu dengan Dirjen PUM. Terlihat dari posisi mereka yang sudah stan by di depan pintu ruangan Dirjen. Sempat juga aku abadikan dengan beberapa foto. Dengan kelihaian persuasif Lae Bob Sagala.... (thanks for your help) keadaan tetap kondusif, Penyerahan permendagri tetap dilaksanakan walaupun di ruang kerja Dirjen. Penegasan batas daerah sebenarnya adalah amanat dari UU pembentukan daerah itu sendiri, dengan tujuan memberi batasan yang tegas kepada pemerintah daerah dalam membangun daerahnya. Para undangan akhirnya pulang tanpa menyaksikan acara penyerahan, cukup dengan foto aja kali ya..... :).

Dengan kepiawaian Pak Kartiko (Dir WilTas), emosi para tokoh tersebut dapat dikendalikan dalam diskusi di ruang rapat Lt II. Pengalaman beliau menunjukkan klasnya. Walaupun diawal diskusi terlihat emosi yang sangat tinggi dari tokoh perwakilan masyarakat 9 desa, ada hujatan, kepalan tangan, ancaman daerah akan tidak aman, mungkin akan terjadi korban jiwa dll, merinding juga dengarnya........ tapi degan bijak dan sigap Pak Kartiko dapat melayani dan menjelaskan duduk perkaranya dan bagaimana proses serta tindakan prosedural yang harus ditempuh. Salut untuk Pak Kartiko, semoga ilmu beliau tertular ke saya dan rekan-rekanku. Butuh waktu dan pemikiran yang matang hingga mencapai pemahaman sedemikian itu. Semoga.

Semoga juga 9 desa di Kec. Silinda Kab. Serdang Bedagai aman dan maju. Horas-Mejuah-juah





Kamis, 02 Agustus 2007

Catatan awal Agustus.

Hampir satu bulan aku tidak menorehkan pengalaman, aktifitasku di sini. Ada beberapa kesibukan yang sangat menyita waktu dan pikiran. Waktuku terluang untuk pekerjaan, lembur............

Nah, awal Agustus, aku dapat tugas sebagai pembina apel pagi di Ditjen PUM. Program ini merupakan pembelajaran kepada staf untuk lebih siap dengan tanggung jawab yang lebih besar yang akan diemban. Program ini juga dilaksanakan dalam rangka pengkaderan staf dengan nilai-nilai kepemimpinan. Ada yang bilang latihan uji mental.... he...he...he...
Bener juga sih.... ada beberapa teman yang pada gemetaran dan gak bisa tidur. Maklum.... pertama kali berdiri di depan, sebagai pembina apel dan menjadi pusat perhatian yang akan menjelaskan tugas dan keberadaan di subdit masing-masing. Biasanya kan yang "pertama" itu rada seret-seret, masih keset, jadinya sedikit gugup. Tapi kesan pertama itu begitu menggoda, selanjutnya.....pasti lancar he....he....he... (dalam benakku, siapapun yang ingin maju, pasti pengen jadi pemimpin, jadi bos... tapi bos yang bijak)

Tanggal 1 Agustus, aku bangun lebih awal, kuawali aktifitas dengan renungan dan doa pagi. Trus mempersiapkan materi yang akan disampaikan sebagai pembina apel. Tentunya masih terkait dengan tugas saya sebagai staf di Ditjen Pemerintahan Umum, Depdagri.
Dengan langkah mantap, berangkat ke kantor, suasana masih sepi (bisanya aku tiba, udah pada rame, siap-siap apel, padahal tempat tinggal masih di lingkungan kebon sirih.... ah..dasar malas bangun pagi). Tiba di ruang kerja, cek e-mail dan berita tergresss, biar gak ketinggalan info, gitu lho!
7.30 WIB, apel dimulai, dan aku menjalankan tugas, ternyata lancar-lancar aja..... Yang terucap adalah tugas dan kegiatan sehari-hari dan beberapa rangkuman kegiatan serta kedinamisan bertugas di subdit batas Antar Daerah. Menyapa, mengenalkan diri dan riwayat singkat pekerjaan hingga "nongol" di Ditjen PUM. Seklanjutnya adalah penjelasan tugas-tugas dan rentetan pekerjaan yang sedang dan akan digeluti. Termasuk penjelasan beberapa kasus batas daerah dan kegiatan persiapan penyusunan RPP tentang daerah Kepulauan (ntar aku cuplik hasil simpulanya....sabar ya.....). Ternyata aku memberi pengarahan selama 15 menit, dan aku perhatikan Pak Sekretaris, para Direktur dan barisan staf, pada serius di barisan. Mudahmudahan yang aku sampaikan bisa menjelaskan keberadaan dan tugas-tugas serta kedinamisan, semangat yang tercipta di subdit batas antar daerah. Bekerja di subdit batas daerah, seolah-olah bekerja tanpa batas.... berkejar kejaran dengan waktu untuk menuntaskan sengketa batas yang sudah over load. Butuh pemikiran ekstra untuk setiap kasus. Butuh waktu yang tidak singkat untuk penuntasan satu kasus, sementara kasus yang tercatat hampir seratusan kasus BAD ?????? cape deeeh...... Belum lagi daerah2 yang minta segera diverifikasi dan dituntaskan kasus batas daerahnya.
Puji Tuhan, dengan baik aku laksanakan tugas pembina apel (pertama kali, mudah-mudahan berlanjut untuk tugas-tugas yang lebih besar, Jesus.... help me, please bless me courage and wisdom).
Bubar barisan, aku dapat selamat dari Pak Sekreraris dan para Direktur serta rekan-rekan karyawan Ditjen PUM, Pak Norman (Dir. Dekonstrasi dan Kerjasama, sejenak berembuk tentang PP Tegal Brebes apakah dilanjutkan Permendagri, sebaimana salah satu materi yang aku sampaikan...sepertinya kami beda prinsip dalam hal ini......kan demokrasi... perbedaan dihormati....mari diskusikan......)

Nah, kelar apel pagi, aku harus ke Hotel Mercure Rekso, rapat RPP tentang Kepualauan masih berlangsung. Nah... itu dia, pengalaman awal di awal Agustus. Thanks God.

Selasa, 03 Juli 2007

Batas Sulawesi Tenggara - Sulawesi Tengah


Nah...ini cerita seru....

Kali ini perjalananku ke perbatasan Sulawesi Tenggara - Sulawesi Tengah.
Perjalanan ini dalam rangka tugas dari kantor, peninjauan beberapa pilar batas antara kedua daerah. Sebuah goresan sepanjang 15 cm, menjadi kenangan yang akan tersurat selamanya di punggunggku. Ndak tau, sedih atau sen
ang menerima tanda itu di tubuhku.

Ceritanya begini.....

Senin sore (25 Juni 2007), aku bersama Pak Gondo, Be Rere, Mayor Satriya dan Rokhyadi (Bakosurtanal) take off dari bandara Soekarno Hatta menuju Kendari (penerbangan dengan Lion Air, 18.30 WIB). Transit di Makassar trus ke Kendari. (tiba udah tengah malam, sedikit terlambat karena dari jakarta delay 30 menit dan di makassar delay juga 20 menit karena cuaca di kendari hujan.) Rombongan dijemput Pemprov Sulawesi Tenggara, selanjutnya menghantarkan kami ke hotel Imperial, Kendari. Nginap , tidur pulas....capek seharian, pulang kantor langsung terbang, hampir 4 jam perjalanan..uhh....

Selasa pagi (26 Juni 2007), setelah sarapan pagi (ehh..sarapannya cenderung menu jawa, musik yang mengiring irama sunda.....padahal di kendari.... mana musik etnis kendarinya???), kita dijemput, dan langsung ke Kantor Gubernur Sulawesi Tenggara (sekitar 30 menit dari Imperial hotel). Daerah perkantoran yang rimbun dengan hutan (hutan buatan)... Menurut informasinya.. Gubernur yang sebelumnya terinsfirasi dengan hutan buatan di UGM Yogyakarta. (Alumni Fakultas Kehutanan kali.........) Sangat Asri dan sejuk.

Setelah audensi dengan Sekretaris Prov. Sultra ( Ir. Zainal Abidin, MM) dilanjutkan dengan Diskusi di ruang rapat (cukup representatif) yang diikuti oleh jajaran Pemprov, Sultra, Kanwil BPN dan Komisi A DPRD Prov. Sultra. Sementara dari Prov. Sulteng diwakili oleh kabag OTDA Biro Pemewrintahan PemProv. Sulteng, Kanwil BPN Sulteng. Karo Pemerintahan dan Komisi A DPRD Sulteng tiba menjelang diskusi berakhir. Cukup rame diskusinya, masing2 memberi argumen tentang kebenaran batas menurut daerah masing2. Kadang meluas dari topik bahasan, (di luar masalah 3 pilar yang disengketakan). Posisi Kantor Gube
rnur Sultra aku ukur dengan GPS Garmin 3 plus dengan koordinat 040 01’ 29.1” LS dan 1220 32’ 25.1” BT.

Jam 2 siang pembahasan/diskusi selesai, makan siang, kembali ke hotel dan bersiap ke
lokasi.
Perjalanan panjang (6 jam) dari kendari ke rumah dinas camat Wiwirano. Sangat melelahkan karena kondisi jalan yang cukup sulit. Jalan tanah, lumpur, hujan dan tanjakan. Lokasi yang akan ditinajau terletak di daerah pegunungan. Perkebunan kelapa sawit menjadi pemandangan yang cukup lama. Banyak juga gambaran miris kehidupan penduduk sepanjang jalan. Rumah di pedalaman yang tidak layak disebut rumah hunian (dinding yang menganga, rumah asal jadi, dihuni banyak anak-anak), permukiman kumuh di pesisir pantai. Jauh dari akses. Benar-benar menyedihkan. aku coba untuk berpaling, tetapi gambaran kemiskinan itu selalu menggayut di pikiranku. Tapi sepertinya masyarakatnya sudah terbiasa hidup dengan kondisi ekonomi seperti itu. Mereka cukup kuat menahan cuaca panas di
ngin. Ahh....kapan berobah keadaan seperti ini, sedih...

Mendekati
jam 9 malam, tiba di rumah dinas camat wiwirano (posisi 030 14’ 09.5” LS dan 1220 08’ 45.2” BT)., cukup luas. Pandangan sekitar gelap gulita, ternyata belum tersentuh listrik. Hanya rumah camat yang terang benderang (punya genset sendiri, punya kecamatan kali...). Udara pegunungan, dingin, sejuk. Terasa segar bangat, beda dengan keseharian hirupan udara di jakarta.
Disambut Pak Camat dan istri (cantik juga....he..he..he...), ramah tamah, dilanjutkan makan malam, dengan paduan masakan ikan bakar dan sayur tradisional. Enak buangat, kebetulan lapar skali..... lahap juga aku makan, apalagi sambal colo-colo (seperti dabu-dabu) pedas yang tersaji dipojok meja, menambah nafsu makan..... hitung2 saving tenaga untuk survey besok hari. Kelar makan malam, dilanjutkan
diskusi rencana survey dan tahapan lokasi yang akan disurvey. Ditetapkan, Pilar PBU 14 yang lebih dahulu dan dilanjutkan dengan PBU 13 dan titik2 yang lain jika memungkinkan. Setelah pembagian lokasi kamar tidur, tim menuju kamar masing2. Lagi2 aku satu kamar dengan bosku (Pak Gondo), dan 2 orang dari pemprov Palu.

Nah... besok paginya, aku bangun lebih awal dari Pak Gondo dan 2 rekan lainnya. Susah tidur, karena didominasi suara dengkur yang sahut-sahutan. Mungkin karena capek .....atau kekenyangan kali ye.... Capek pasti!
Mandi dan siap2 dengan pakaian survey, GPS, Kamera dan buku catatan. Dengan mengunakan mobil dinas Karo
Pemerintahan Sulteng (Inova... Pak Karo sendiri yang nyopirin....) jam 7 pagi berangkat ke lokasi PBU 14 setelah melewati titik batas Sultta-Sulsel-Sulteng, menyisiri bukit dan tanjakan. Suasana masih berembun, udara dingin. Pemandangan sangat indah, masuk hutan yang begitu rimbun. Satu jam perjalanan tiba di PBU 14, hujan masih mengguyur (sejak berangkat dari rimah camat). Posisi di pinggir jalan tanah di bagian lembah. Posisi diukur dengan GPS, difoto dari berbagai sisi sebagai dokumentasi. (Jaketku jadi basah, kehujanan). Posisinya 030 05’ 44.7” LS dan 1220 12’ 07.5” BT.

Dari PBU 14 dilanjutkan ke lokasi Watu Sorodadu, sebuah lokasi yang dipandang bersejarah oleh masyarakat Wiwirano/Sultra. jalan tanjakan sekitar 2,5 km. Menurut sejarahnya, Tentara Belanda bersepakat membagi wilayah antara etnis di wilayah tesebut. Sehingga dijumpai beberapa "tutur bahasa" yang mencerminkan kepemilikan wilayah. Menurut mantan kades Tetewatu seharusnya pilar PBU 14 berada di Watu Sorodadu. Posisinya 030 04’ 54.6” LS dan 1220 12’ 59.4” BT. setelah mengabadikan dari berbagai sisi, dilanjutkan ke PBU 13.

Setengah jam perjalanan, tiba di pertigaan, mengarah ke bukit. Hujan masih turun. Mobil inova hanya sebatas itu, kondisi medan tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan. Dengan menggunakan mobil Hardtop
double gardan milik PT Perkebunan setempat, menghantarkan kami ke titik yang maksimal dicapai. hanya 15 menit, seperti rally off road aja, kondisi jalan lebih sulit lagi, penuh lumpur dan tanjakan. Akhirnya tim memutuskan melanjutkan dengan jalan kaki. Nah...ini baru namanya survey alam, berbasah basah karena masih diguyur hujan. 9 orang. Berjalan melalui aliran sungai kecil, kaki terperosok, tergelincir, terjerembab, tergores duri...menjadi hal yang biasa. menaiki 3 bukit yang sangat terjal, menapaki lereng tebing yang terjal. Kehati-hatian menjadi kunci utama, Tetapi tetap aja terperosok dan tergelincir. Memasuki hutan yang sepertinya belum terjamah, merintis jalan, merunduk. Sesekali berhenti memperhatikan sekitar, melihat ke arah mana harus berjalan.

Ketika menaiki gunung yang pertama, aku terperosok ke lubang (atasnya tertutup daun2 dan tanah, seperti tidak ada lobang). Refleks tanganku menaha
n di sisi lobang. kaki menggantung tidak tahu seberapa dalam lobang itu. Kaki, tangan memar. Sakit juga, perih. Perjalanan lanjut lagi, kadang salah arah, dan balik lagi. Ketika menuruni lereng gunung batu, kembali aku terperosok, lebih parah lagi. Badanku masuk lobang batu, untung kaki kiri masih menggantung, sehingga menahan tubuhku yang sudah masuk lobang. Sesaat tidak bisa bernafas, tapi aku harus menahan kakiku, agar tidak jatuh. Nah kejadian ini yang melukis goresan sekitar 15 cm di punggungku di bagian punggung tengah, dari kanan atas ke kiri bawah. Beruntung punggungku dibalut kain dan jaket sehingga tidak sampai luka berat. Sakit bangat.

Survey dilanjutkan lagi menaiki gunung ke tiga dengan kondisi lereng yang terjal. tanaman berduri, menuruni punggung gunung, mengikuti aliran sungai, hingga menanjak ke puncak gunung di mana lokasi pilar PBU 13 ditemukan. Lega juga. akhirnya ditemukan setelah survey (lintas alam, hutan, hujan) selama 2,
5 jam. Hujan masih mengguyur, tetap basah. Pacet menempel di kaki dan perut.... uh..uh.. betul2 satu perjuangan yang melelahkan dengan topografi yang sangat sulit. Mengukur posisinya dan foto bersama di tengah hutan basah diguyur hujan. Posisinya 030 06’ 05.4” LS dan 1220 13’ 34.0” BT.

Perjalanan pulang terasa lebih rileks karena yang disurvey sudah ditemukan. Pak Gondo yang tidak
melanjutkan survey (berhenti mendekati puncak yang kedua) tersusul dalam perjalanan balik ke lokasi mobil. Tertatih-tatih, sesekali berhenti, hirup nafas, seger.... lanjut lagi jalan.. Sepatu penuh lumpur, basah kuyub. Akhirnya setelah 1,5 jam, bertemu dengan rombongan, dan siap pulang ke rumah dinas camat wiwirano. Aqua menjadi penyelamat dahaga yang tertahan sejak awal survey. 4 jam lamanya mensurvei PBU 13. Hari sudah jam 5 sore. Survey ke PBU 15 tidak dilanjutkan lagi. Waktu tidak memungkinkan.

Jam 7 malam tiba di rumah pak camat, mandi....seluruh tangan perih....banyak luka tergores duri, dan memar di punggungku membuat aku menahan sakit. Malamnya diskusi dan membuat berita acara dan rencana berikutnya. Jam 9 malam, pulang ke Kendari. Kondisi jalan jauh lebih parah karena diguyur hujan. Satu mobil (KIA Trafelo) tidak bisa melewati medan, akhirnya ditinggal, ditunggui 2 sopir di tengah hutan. Rombongan di pindah ke Bus yang sudah melewati kubangan lumpur. Pak Karo Pemerintahan Sulteng sangat piawai mengemudikan Inovanya. Dia benar2 seorang pembalap off road padahal usianya sdh mendekati 56 tahun. Perjalanan ke Kendari 8 jam (beliau sendiri yang nyetir).

Subuh (jam 5) tiba di Kendari trus cari hotel. Mata berat menahan kantuk. Tidur hanya sebentar, jam 11 cek out, cari oleh2 diantar bu Andi Nona (kabag pemerintahan Sultra), cari sandal pak gondo (sepatunya rusak). Pakaian dan sepatu survey yang masih basah, dimasukkan kardus (biar rapi, jangan2 terbawa juga pacetnya,
kata bu nona)...... Terbang dengan Merpati Airlines, sore hari, tiba di makassar malam. Cari2 hotel diantar Kapten Syarifudin (Topdam VII/Wirabuana)... akhirnya nginap di hotel Anging Mamiri. Tiket ke Jakarta belum ada. Setelah makan malam, menu utama ikan bakar dan tenggiri pepes, balik ke hotel dan tidur. Jam 4 pagi mandi, kemas2 ke bandara. Sarapan di hotel dan go ke Hasanudin Airport. Jam 10 WIB tiba di Bandara Sukarno Hatta, langsung ke kantor, ada kasus penjualan pulau.

Goresan memar di punggung, jadi tanda mata dari survey kali ini. Demam, sampai hari ini masih meriang, mungkin karena meradang kali...

Nah itu dia ...ceritaku kali ini.....

Selasa, 19 Juni 2007

Penyerahan PP dan Permendagri


19 Juni 2007, Hari ini kuawali dengan berangkat ke kantor lebih pagi dari biasanya. Ada helatan yang bersifat prestisius di subdit batas antar daerah. Penyerahan PP perubahan batas wilayah dan Permendagri Batas Wilayah untuk Prov. Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kab. Cilacap, Banyumas, Brebes, Sumenep, Pamekasan, Buleleng, Karangasem dan Kota Tegal. Bupati dan pejabat dari masing-masing daerah hadir dalam acara penyerahan tersebut.

Acaranya memang berlangsung 2 jam (seperti yang direncanakan). Tapi persiapan penyelenggaraan acara, wah.... sangat menyita waktu, tenaga dan pikiran. Menahan mata agar tetap melotot di depan monitor. Terkadang ndak kuat, sesaat tertidur juga di kursi, terjaga saat kepala mengangguk, trus lanjut lagi berkutat dengan komputer. Kerja memang keroyokan, masing-masing sudah dapat porsi tugas dari Pak Kartiko. Beliau langsung mengarahkan. Hari sabtu sebelumnya didahului lembur, siapkan materi bapak mendagri terkait dengan "isu provinsi kepulauan".

Berbicara tentang penyelesaian batas antar daerah, seolah-olah kerja yang tidak henti. Selama daerah masih bertetangga, selama itu pula ada potensi ke arah persengketaan yang bisa saja mengarah ke konflik sosial jika tidak dikelola dengan bijak. Masalah batas bukan hanya sebatas garis di peta, tetapi ada kandungan sosial budaya, sejarah dan yuridis formal yang harus dilalui hingga penentuan koordinat lapangan. Semuanya akan tergambar dalam peta batas daerah.

Suatu prestasi (kata pak dirjen) dengan lahirnya 1 PP dan 3 Permendagri. Prosesnya bertahun-tahun. Kasus sengketa batas lebih rumit lagi di wilayah luar Jawa. kedidakpercayaan diantara masyarakat satu desa dalam keberpihakan ke wilayah tertentu. Terusir dari kampung, hanya karena batas wilayah. Kadang sulit diterima akal, tetapi begitulah kenyataan di lapangan.
Rakyat kecil jadi korban, padahal keinginan mereka sebenarnya hanya hidup rukun, damai, tetapi karena kecurigaan atara pro dan kontra menyangkut cakupan wilayah, terjadilah sengketa. Akhirnya penetapan dan penegasan pasti batas daerah semakin sulit.

Ada harapan tahun 2007 ini, 11 PP dan Permendagri batas wilayah akan bisa lahir. Selama ini pembahasan dengan Tim Kecil Komisi II DPR cukup intensif. Mudah-mudahan dengan adanya batas daerah yang jelas, tidak ada lagi saling curiga dan sengketa diantara masyarakat dan daerah yang bertetangga. Semoga. Ayoooo semangat trus Subdit Batas Antar Daerah Dirwiltas Ditjen PUM Depdagri.

Semoga.

Selasa, 12 Juni 2007

Hari Ulang Tahun, Hari Jadi

Hari Ulang Tahun, Hari Jadi.

Masa kecil, saat mengenang perayaan hari ulang tahun, yang tergambar dalam bayangan adalah lilin, kue tart, balon. Nyanyian selamat kepada yang berulang tahun, tiup lilin…ffiuhhh..fiuuhh..lilin padam dan disambut tepuk tangan yang lebih meriah dari saat bernyanyi bersama. Rona sumringah tercuat di wajah yang berultah. Kegembiraan menjadi penuh, senyum tak lekang dari bibir, memandang sekeliling, menerima salam, Peluk cium pun bersarang di kening, pipi dan kepala yang hari itu tengah berbahagia memperingati hari jadinya. Peluk cium pipi kiri kanan (cipika-cipiki….). Ada doa dari orang tua.

Masa kecil, arti hari ulang tahun adalah “pesta”, kemeriahan, makan enak dari biasanya, bernyanyi bersama….. belum terlintas makna hakiki tentang refleksi hari-hari yang terlalui dan bagaimana ke depan dengan bergulirnya ketambahan usia… belum terpikir, maklum masa anak-anak yang penuh keriangan. (Padahal tidak seutuhnya anak-anak mendapatkannya….)

Beranjak remaja, perayaan ulang tahun, umumnya tak jauh berbeda dengan sebelumnya. Masih dengan kemeriahan lilin, kue tart, balon, tepuk tangan dan lagu yang sudah sangat dihapal luar kepala bahkan oleh anak usia tiga tahun sekali pun. Bedanya mungkin pada pestanya yang lebih beragam, makanannya yang tak lagi dibungkus plastik berisi permen dan makanan kecil. Musiknya pun mulai bergeser ke selera ABG, hentakan musik yang memekakkan telinga (kenapa yahhh begitu?), acara yang dikemas sedemikian rupa yang saya sendiri kadang tak paham kaitan kemasan acara dengan makna ulang tahunnya. Kadang dengan thema tertentu pada saat ulang tahun ketujuh belas. Kedewasan, Kebebasan… beribu ragam thema acara ultah yang mungkin makna sebetulnya tidak dimengerti yang punya hajat. Ikut-ikut tren aja. Peluk cium masih ada, cuman bedanya sekarang datang dari teman-teman sebaya, mungkin juga dari seseorang yang menjadi tamu spesial di pesta itu.

Bagi saya pribadi, sejak kecil tak pernah merayakan hari jadi dengan pesta, tak pernah ada lilin, kue tart, balon, dan segala yang saya saksikan di berbagai pesta teman-teman. Yang pasti pada saat hari ulang tahunku (maupun saudara-saudaraku) saat itu orang tuaku mengumpulkan kami dalam sebuah jamuan makan alakadarnya. Duduk bersila seluruh anggota keluarga mengelilingi sajian makan malam yang sedikit lebih istimewa dari biasanya. Kemudian saya diminta bersyukur atas segala nikmat yang Tuhan berikan selama sekian tahun menjalani kesempatan hidup yang diberikannya dan bermohon akan keinginan-keinginan yang ingin dicapai, khususnya dalam sekolah.. (kan saat itu masih sekolah he..he..he..). Ada doa tulus dan ucapan syukur dari orang tua. Dibarengi dengan ibadah sederhana dan renungan yang dipimpin ayahku. Wejangan menyikapi hari ulang tahun menjadi sesuatu yang mengajakku berfikir “ seberapa besar kebaikan yang sudah terlakoni dan seberapa banyak keburukan yang terjadi dalam satu tahun di belakang?”. Sulit untuk menjawabnya. Tapi yang pasti bahagia sekali, sederhana tapi buat aku lebih bermakna. Orang tuaku mendidikku dengan kesederhanaan dan cinta kasih yang tidak terbilang. (thanks mama & papa).

Ulang tahun hendaknya dimaknai dengan pengertian bahwa ulang tahun adalah sebuah terminal pemberhentian untuk merefleksi kembali jejak tapak jalan hidup yang sudah ditempuh agar mampu menutup setiap celah yang ada, memperbaiki kesalahan yang tercipta, dan melahirkan tekad untuk hidup yang lebih baik lagi pada lembaran-lembaran tahun ke depan. Evaluasi liku-liku perjalanan hidup, memaknai manis pahit getirnya, meramunya menjadi kekuatan untuk hidup yang lebih manis. Menerima saran, kritikan dan evaluasi yang bisa saja terasa pedas dan perih. Memaknainya secara dewasa sehingga tak lagi terasa perih semua masukan dan lebih bijak memandangnya sebagai bentuk cinta kasih. Mengisi ruang hidup dengan akal budi, mengisi bejana hidup dengan kebajikan, membalut hidup dengan kasih sayang.

Ulang tahun bukan sekedar tanda usia bertambah satu tahun. Ulang tahun sejatinya adalah anugerah Tuhan. Dianugerahkan-Nya bonus usia tanpa kita minta, dan tanpa diminta-Nya pula, kita terpanggil untuk mensyukurinya, dengan hati, dengan iman. Melalui pikiran dan perbuatan

Umur adalah Nikmat dari-Nya.

Kita terlahir atas cinta kasih orang tua. Melalui perjuangan hidup mati, menggendong kita dalam balutan kasih sayang dalam rahim ibu, 9 bulan dan dengan taruhan nyawa sang bunda menghantar kita menghirup udara dunia. Yang ada hanya kasih.

Saat berulang tahun, sejatinya kita mengingat lagi perjuangan seorang ibu yang melahirkan, berlelah membesarkan, sabar mendidik dan curahan kasih yang tidak henti. Tertuju hanya untuk buah hatinya, sang anak. Berulang tahun, bertambah usia, bartambah kasih sayang untuk bunda yang melahirkan kita.

Hari-hari di bulan Juni tahun ini menambah makna keberagaman dalam perjalanan hidupku. Tanpa terasa satu bilangan tahun lagi bergulir, terlewati dan masuk dalam gudang kenangan. Berbagai pergumulan dan sejumlah anugerah telah saya nikmati. Lembaran hari-hari di tahun usiaku yang beranjak satu tahun lagi telah siap menyambut dengan segala kerumitan dan kebahagiaan di dalamnya. Seseoang pernah berkata “ Semua bermuara pada satu kebenaran hakiki, bahwasanya hidup manusia sudah ditentukan dan diatur, bukan oleh dirinya sendiri, melainkan oleh sesuatu yang benar-benar ada tapi tak kasat mata. Melihat meski tak terlihat. Menatap kendati tak tertatap mata. Menjauhi dari dekat dan mendekat dari jauh. Menjangkau tapi tak terjangkau. Selalu ada dalam ketiadaan. Hadir tanpa menghadirkan diri. Sungguh tak terselami, kendati menyelam hingga ke dasar samudera akal pikir. Jarak yang memisahkan sejatinya hanyalah sejauh jangkauan iman dan doa.

Saya percaya adanya satu Kekuatan Besar yang mengatur kita semua. Bahwa tidak ada kebetulan dalam hidup ini. Saya menjadi lega dengan meyakini bahwa semua ada dalam keteraturan. Saya yakin, bahwa saya, kita semua, hidup di dunia ini untuk tujuan tertentu. Dan sekalipun terkadang kita terombang-ambing tanpa arah dalam hidup, ada satu jalan tak kasat mata yang menuntun kita hingga sekarang ini, dan menjadi alasan atas sesuatu yang perlu diperjuangkan. Meyakini ada Sang Maha Pengasih yang membimbing dan menyayangi diri ini di saat dunia seolah tidak berpihak pada saya, selalu memberi ketenangan bagi saya. Dan karenanya, saya bisa meluangkan satu waktu sakral untuk melepaskan diri dari pahitnya (dan terkadang pula manisnya) dunia, untuk berserah diri kepada-Nya.

Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. Roma 5:3-5

Dari suatu peristiwa, kita selalu bisa mengambil hikmah. Bahkan untuk sebuah ulang tahun, kita malah dapat menciptakan sebuah manfaat. Tiada sekejap pun kita dibiarkan berjalan sendiri. Tiada sedetik pun kita ditinggalkan. Pun saat kita yang pergi menjauh dariNya. Tiada pernah IA menjadi tidak setia karena ketidaksetiaan kita. Hanya Kasih Agung yang punya setia tak berubah. Tak tergoyahkan. Setia yang tiada bertara.

Saat ini, semakin sadar diri ini bahwa memperingati hari jadi terasa lebih khidmat saat mengingat kembali masa lalu, menapaki satu persatu jalan yang pernah terlewati, memperbaiki yang salah, menambal yang berlubang, menutupi setiap celah keburukan, agar mampu menatap masa depan yang lebih cemerlang.

Kutak tahu apa yang akan terjadi hari esok. Dunia ini penuh ketidakpastian. Apa yang sekarang terang esok-lusa bisa berubah menjadi buram. Dan sebaliknya. Tapi toh di tengah segala ketidakpastian itu ada satu hal pasti: Tuhan tidak pernah jauh dari kita. Tangan kita selalu ada dalam genggaman-Nya. Maka, jangan takut dengan masa depan. Apa pun yang kita hadapi sekarang. Berjalanlah dengan iman. Dan bertahanlah. Tuhan beserta kita.

Selamat Ulang Tahun.

Kamis, 31 Mei 2007

Danau Toba - Samosir - Onan Runggu - Pakpahan



Kembali aku bercerita......

Kali ini liburan long weekend ( 17 - 20 Mei 2007), wisata ke danau toba.

Rencana liburan memang sudah direncanakan 1 minggu sebelumnya, kasak-kusuk cari tiket (yang murah meriah....). nah ketemunya penerbangan dengan AsiaAir, pesan lewat internet (pertama kali pesan lewat internet, dan pertama kali terbang bersama AsiaAir). Berangkat Rabu sore dan Pulang Sabtu malam. Untuk hari minggu tanggal 20 Mei, tiket mahal (mungkin sudah pada booking). Kali ini liburan dengan Terry Kepel.

Berangkat dari kost (kebon sirih timur gang 2 no. 10 jkt) pukul 15.00, ke blok m. Rencana bareng dengan Terry naik bis bandara. Eh...ditunggu-tunggu gak nongol-nongol, akhirnya berangkat sendiri pukul 15.30. Kesal juga, soalnya pesawat take off 17.55. Dia akhirnya ke bandara naik taxi. Eh....ternyata macet total sejak dari Pintu Tol Senayan...... Perasaan sudah gak karuan, bis jalannya merayap. Sambil telpon ke Terry posisi dimana, liat-liat jam (sama dengan penumpang yang lain), akhirnya tiba di bandara sukarno hatta pukul 17.50. Terry udah tiba 5 menit sebelumnya. Wah... udag gak yakin masih bisa cek in. Tapi coba aja, sambil lari-lari ke loket Asia Air, ternyata masih bisa, dan masih banyak yang datang belakangan. (ternyata delay 30 menit). Syukur....tiket gak hangus. Keinginan berwisata ke danau toba sudah di depan mata.
Tiba di medan sekitra jam 21.00, disambut hujan. Kami dijemput Lae Siahaan (suami kak Risma), masih berpakaian dinas (wah...langsung dari kantor, mauliate Lae....). Sambil bercerita dalam mobil, Lae Siahaan memperkenalkan beberapa lokasi di Medan ke Terry. Cuman agak gelap, udah malam dan hujan. Tiba di rumah Lae Siahaan, sekitar pukul 22. Disambut Kak Risma, bere Raymond dan Petrus. Selanjutnya ngobrol-ngobrol hinggatengah malam.
Besok paginya, kami diantar ke terminal bis dan memulai perjanan darat keluar medan. Tujuan Parapat. Dalam Bis sedikit gak nyaman, banyak asap rokok, dan penumpang rada gak sadar dengan kenyamanan orang lain. Melewati Tebingtinggi, Pematang Siantar trus ke Parapat. Sebelum memasuki Parapat dari kejauhan sudah tampak panorama indah danau toba.... ciptaan Tuhan yang luar biasa, begitu indah. Danau air tawar terbesar di dunia tersebut memiliki luas 110.260 hektar dan berada di ketinggian 1.000 meter di atas laut. Kelelahan dan ketidaknyamanan di bis, hilang.... rasanya segar.... ngantuk hilang. Sepanjang jalan, mata menoleh ke arah danau toba, hingga turun di terminal bis Parapat dekat pelabuhan penyeberangan. Sejenak memandang kapal ferry yang akan mengangkut kami ke Onan Runggu, Pakpahan. Setelah bertanya jadwal kerangkatan kapal, ternyata masih sempat menikmati ikan mujair bahar khas batak dan melepas penat duduk & ngobrol berdua. Uh... tabo...(enak gitu lho....). Tak lupa beli oleh-oleh untuk Namboru dan keponakan-keponakan, juga pisang goreng penambah kenikmatan ngobrol di kapal. Duduk di bagian dek atas, supaya lebih leluasa menikmati indahnya panorama danau toba dan lereng gunungnya. Sesekali bertanya kepada penumpang (pake bahasa batak lho...) desa-desa yang disinggahi kapal. Anak-anak kecil bermain di air di tepi pelabuhan, berenang sambil memberi lambaian tangan ke kami. Tentu momen ini aku abadikan dengan kamera yang tidak lepas-lepas jepret sana sini.
Setelah menyinggahi beberapa desa (pelabuhan), perjalanan 4 jam, tibalah di Onan Runggu. Tapi aku sedikit bimbang, tugu Pakpahan Huta Namora kog tidak nampak? Padahal sudah sempat turun dari kapal. Akhirnya kami naik lagi, setelah bertanya ke ABK kapal. Tuga Pakpahan Huta Namora masih 2 desa lagi yang tidak jauh dari Onan Runggu. Wah... senang bangat bisa benginjakkan kaki di desa ompungku, melihat simbol kampung Pakpahan Huta Namora, teringat saat kecil waktu pesta peresmian Tugu itu. Masyarakatnya tidak berobah, sangat ramah. Singgah di rumah Inang Uda (Pa Hian) (kebetuan lg ke kedukaan) trus jiarah ke makam ayah (Makam keluarga). Ciri Rumah Batak, dengan prasasti keterangan silsilah yang dimakamkan, pada sisi kiri makam. 5 Tahun lalu, bapakku dipanggil Bapa Yang Maha Kuasa dan dimakamkan di kampung halamannya, tempat kelahirannya. (jadi teringat lagu O.. Tano Batak)
Nginap 1 malam di rumah namboru (mauliate makan malamnya, enak bangat). Besok paginya perjalanan darat ke Pangururan. Naik beca mesin ke terminal di nainggolan ( Wah...beca mesin udah masuk samosir.... baguslah.....). Trus lanjut ke Pangururan, genjot-genjotan dalam mobil, maklumlah, masih sedikit angkutan. Menyisiri tepian pulau samosir, keindahan alam danau toba seakan tak lepas dari pandangan mata. Sambil dengar-dengar penumpang yang kental dengan bahasa batak, enak sekali didengar. Sesekali supir memutar lagu -lagu batak menambah romantisnya perjalananku kali ini.
Tiba di Pangururan sore hari, trus cari angkutan pulang ke Sidikalang. Masih sempat jalan-jalan baik beca di Pangururan, trus mengabadikan indahnya lukisan alam dari sudut kota Pangururan. Ada Pusuk Buhit (konon, sejarah orang batak bermula di situ). Melewati Tele, lokasi ketinggian, tempat yang cocok untuk menatap danau Toba dari kejauhan (namanya Panatapan).... jalan berliku-liku diantara lereng gunung. kadang mendebarkan melihat ke sisi mobil, jurang yang dalam. Tapi puji Tuhan, selamat akhirnya tiba di Sidikalang, rumahku, kampung halamanku. Mamaku dengan senyum ramah menyambut kami. Semalan di rumah, besok paginya (Sabtu) ke Medan,.....sore harinya ke Bandara Polinia Medan, menunggu di bandara, pesawat delay 1 jam. Akhirnya terbang dengan AsiaAir pukul 23.30. Ngantuk bangat,. Tiba di Jakarta Minggu subuh 01.40. Naik taxi, tiba di kost kebon sirih 02.20 WIB. Thanks God atas kesempatan ini.

Rabu, 30 Mei 2007

Mampir di Sidikalang

Nah...ini cerita tentang rasa kangenku pulang kampung.
Saat bosku mengajak aku ikut survey batas daerah ke labuhanbatu, wah...senang bangat. Pertama, kembali aku menggeluti dunia survey dan pemetaan yang sudah lama tidak terjamah. Dulu sih..waktu di manado, surveynya antar instansi aja, jadi yang dikunjungi kantor aja. nah sekarang real world -nya, masuk pedalaman, perkebunan, menjelajahi perkampungan dll. Trus berdiskusi di atas peta.... asyik bangat.
Kedua, aku harus sempatkan mampir ke Sidikalang (kampung halamanku), mumpung sdh memasuki sumatera utara. Sesuai jadwal survey, yang selesai hari sabtu, memungkinkan aku pulang kampung. (thanks to Pak Gondo, atas ijin 2 hari...)
Pekerjaan survei sudah selesai jumat malam, trus lanjut diskusi dengan pemda setempat dan membuat berita acara peninjauan lapangan. Sebelum meninggalkan Rantaupratat, pamit dulu ke Sekda Pemkab. Labuhanbatu. Perjalanan ke medan agak lambat, berhubung teman dari bakosurtanal masih sakit, lemas, ndak kuat goncangan. 10 jam perjalanan pulang, melewati areal perkebunan kelapa sawit dan karet, jalan yang sama dengan saat kedatangan.
Jam 11 malam tiba di medan dan nginap di Tiara Hotel, di pusat kota, dekat kantor gubernur sumut. Uhh...dingin bangat. Setelah sarapan pagi, rombongan menuju bandara Polonia dan sebelumnya beli oleh-oleh di pusat oleh-oleh medan, beli bika ambon dan bolu meranti. Trus meluncur ke bandara polonia. Setelah bosku dan rombongan cek in, aku pamit pulkam, dan minta ijin 2 hari tidak masuk kantor (setelah nego...bosku setuju....hore.......). Senang bangat, terakhir pulkam 5 tahun lalu, ketika ayahku meninggal dunia tahun 2002.
Dari bandara Polonia, langsung ke stasiun sampri (samosir pribumi) di padang bulan. 3 jam 30 menit perjalanan tiba di rumahku, jalan dalihan natulo no 54 sidikalang. Senang bangat. Sempat kaget juga, di rumah banyak orang, ada kejadian apa? Ternyata ada idadah dan arisan Punguan Hutauruk Boru Bere se sidikalang. Nah, pas makan, ada ikan mas arsik... enak tenan.
Malamnya kangen-kangenan dengan mama, adekku Fernando dan Daulat, Tanteku, famili2 dan tetangga. Rame.
Senin pagi tanggal 7 mei 2007, aku sempatkan ke Taman Wisata Iman (TWI) di desa Sitinjo, Panji. Sudah banyak cerita tentang keindahan taman itu dengan nuansa wisata religius. Berangkat berlima, Kak Sulla, Ita, Putra dan Leo (thanks atas tumpangan mobilnya).
Memang indah bangat panorama TWI, pandangan tidak terhalang dari puncak. Penataan rumah ibadah dari semua agama di indonesia, ornamen2 religius yang menonjol di areal taman. Ada Jalan salib (via dolorosa) yang mengingatkan akan penderitaan dan cinta kasih Yesus, hingga mati di kayu salib. Goa Maria dan bilik doa. Patung Musa, Abraham ketika mempersembahkan anaknya Isak, miniatur kandang domba tempat Yesus lahir. Masih banyak lagi, yang bisa dinikmati khususnya panorama alam yang indah, sungai yang membelah taman dan suara air terjun. Memang nikmat sekali karunia Tuhan. Thanks God. Tidak sangka ada temapt seindah itu di Sidikalang (Dairi).
Selesai mengabadikan keindahan taman, kami pulang dan mampir di rumah makan dengan makanan khus ayam nadipadar (ayam panggang khas batak). Sambalnya aja enak bangat, pedas,asam.... ada rasa andaliman yang buat lidah bergetar getar enak.
Sorenya masih lanjut dengan makan mi sulla, yang sudah terkenal seantero sidikalang, dan orang2 sidikalang di perantauan umumnya sudah pernah menikmati lezatnya masakan kak sulla. Thanks kak sulla.
Ntar...aku bagi bagi foto-foto Taman Wisata Iman, siapa tahu anda berencana menikmati alam pegunungan, nikmatnya kopi panas dan sidikalang.
Udah ya.... thanks untuk semua. Mauliate

Senin, 28 Mei 2007

catatan yang tertinggal

Aku kangen bertutur lagi......
Awal Mei, kembali aku dapat penugasan survei batas daerah ke Sumatera Utara, tepatnya perbatasan Kab. Labuhan Batu (sumut) dengan kab. Rokan Hilir (Riau). Bersama-sama dengan Tim Pusat (Ditjen PUM Depdagri, Bakosurtanal dan Dittopad). 5 personel, Jumat pagi 2 Mei 2007 jam 06.55, take off dari Bandara Sukarno Hatta dengan Batavia air. Tiba di Medan jam 09.05 WIB, disambut Pak Ritonga (Pejabat dari Pemprov Sumut), mobil lapangan sudah stand by.
Setelah berdiskusi sebentar, perjalanan ke Rantau Prapat mulai. Singgah sebentar di Rumah Sakit......(lupa, tapi RS swasta yang bagus di Medan) jenguk saudara Pak Sutrisno (Sekditjen PUM) yang terbaring sakit (stroke) saat mendampingi Menteri Kehutanan ke Sumatera Utara. Sekitar 20 menit, rombongan sdh dalam mobil dan memulai perjalanan melintasi kota medan, tebing tinggi, melewati perkebunan kelapa sawit, karet, dan kota-kota, perkampungan sepanjang rute perjalanan sumatera timur menuju Rantauprapat. Sepanjang perjalanan, sejaum mata memandang yang tampak hamparan kelapa sawit dan karet yang begitu luas. Pantas aja daerah Sumatera Timur lebih sejahtera dibanding masyarakat Sumut bagian Barat. Saya jadi teringat perjalanan ke sebagain wilayah itu 10 tahun lalu.
Makan siang di Perbaungan, ada menu khas yang cukup digemari, martabe... ternyata jus markisa terong belanda (Tiung sebutannya di kampungku Sidikalang). Enak dan segar, asem2 manis... Wah...makan di restotan melayu (melayu cina kali...) full menu makan. Meja yang dikerumuni 8 orang penuh dengan berbagai jenis makanan khas sumut (yang halal lho...) banyak yang bersantan, kuahnya warna kuning kemerah-merahan. Keripik udangnya enak bangat. sayur daun ubi + sambal terasi...uhh...Kenyang.....
Sekitar jam 4 sore tiba di Rantaupratat, dan nginap di Hotel Nuansa (sempat juga ukur posisi hotel dengan GPS dengan koordinat Hotel Nuansa LB : N 020 05’ 439” ; E 990 50’ 552” ) Hotelnya model resort... bagus juga. Istrihat....
Jam 7 malam, ada jamuan dari ASS I Pemkab Labuhanbatu. Makan malam di Restoran (wah..Sunda bangat nama restorannya...). Tapi menunya Indonesia bangat, pecel lele, makanan jawa, dan yang khas adalah ikan Baung bakar... sejenis lele. Trus jus Martabe dan jus buah pinang. Kaget juga, jus buah pinang... gimana ngejusnya, buah keras bangat. Ternyata buah yang masih muda. Rasanya sepat-sepat manis, agak mirip bandrek juga. Konon nih..menurut orang2 sana, jus buah pinang meningkatkan libido laki-laki.... njreng..ng..ng... uh...
Besok paginnya pekerjaan utama dimulai. Tapi teman dari Bakosurtanal tidak bisa ikut survei, tiba-tib mendadak sakit. Jam 4 pagi, kita semua sudah kasak kusuk cari dokter, bawa ke rumah sakit, cari infus, obat....uh... Sakitnya parah juga.
Silaturahmi dulu ke Wakil Bupati, trus bersama-sama beliau dengan mobil dinasnya yang full sirene meraung-raung (peka juga telingaku) lengkap dengan rombongannya bergerak kelokasi. Memasuki daerah perkebunan kelapa sawit. Seru juga perjalannnya, melewati jalan tanah (untung tidak hujan). Tubuh terlempar kiri kanan. Seru bangat. 3 jam perjalanan menuju titik pertama. (segini dulu yah....) ntar lanjut penuturan dan foto-foto lapangan......

Lanjut bertutur ya….

Tugas utama ke Perbatasan Sumut (Kab. Labuhanbatu) – Riau (Kab. Rohil), survey lokasi yang “disengkatakan” antara kedua pemerintahan. Mengukur posisinya, dan mencari data dari masyarakat. Banyak juga dapat informasi baru tentang kedudukan wilayah yang diklaim masing-masing provinsi tersebut. Khususnya desa Cindur. Survei ke lokasi sungai (pertemuan 3 sungai yang saat itu banjir). Menurut penduduk setempat, dulunya patok batas provinsi ada dekat sungai, di bawah (kolong) rumah penduduk. Mungkin sudah rusak. Yang ada patok yang sudah tua tapi tanpa informasi yang hampir terendam banjir. Berada di belakang rumah penduduk, dan untuk menjangkau patok itu, harus melalui jempatan sebilah papan tau naik sampan.